Jenis-Jenis Polutan dari Pembangkit Listrik Batubara

Pembakaran batubara di pembangkit listrik menghasilkan sejumlah polutan. Beberapa polutan terbentuk berdasarkan jenis bahan bakar, atau merupakan bagian dari proses pembakaran, atau yang berhubungan dengan desain dan konfigurasi pembangkit. Artikel ini menyoroti polutan utama yang dikeluarkan dari pembangkit listrik.

Karbon Dioksida (CO2)
CO2 dianggap sebagai produk dari pembakaran dan bukan sebagai polutan. Isu-isu mengenai efek gas rumah kaca dan pemanasan global telah mengubah cara pandang kita mengenai CO2. CO2 telah dipandang sebagai gas rumah kaca utama. Pembangkit listrik berbahan-bakar fosil adalah penyumbang utama CO2.

Satu MJ input panas menghasilkan 0,1 Kg CO2. Satu-satunya cara untuk menghilangkan CO2 adalah dengan menangkapnya sebelum lepas ke atmosfer. Setelah ditangkap, CO2 tersebut harus disimpan secara permanen atau diasingkan. Sistem penangkapan dan penyerapan komersial belum bisa diterapkan. Sampai waktu tersebut tiba, satu-satunya cara menangani CO2 adalah dengan:
  • Meningkatkan efisiensi pembangkit listrik, sehingga berkurangnya konsumsi batubara akan mengurangi CO2 per kWhr.
  • Beralih dari sumber energi berbasis fosil ke sumber-sumber terbarukan seperti angin, matahari atau tenaga air.
  • Mengurangi deforestasi dan meningkatkan reboisasi untuk menyerap kelebihan CO2 yang dihasilkan.
Sulphur Dioksida (SO2)
Sulphur dioksida merupakan produk pembakaran dan tergantung pada jumlah kandungan belerang batubara. Polutan ini juga disebut sebagai SOx.

Sulphur dalam batubara bervariasi dari 0,1% hingga 3,5% tergantung pada jenis dan ranking-nya. Selama pembakaran, sulfur bergabung dengan oksigen membentuk SO2.

Pembangkit listrik merupakan penghasil emisi terbesar SO2. Oleh kehadiran gas-gas lain, SO2 membentuk asam sulfat dan dapat turun dari atmosfer dalam bentuk hujan asam yang menyebabkan kerusakan sistem ekologi.

Penggunaan batubara belerang rendah adalah cara terbaik untuk mengurangi emisi SO2. Desulfurisasi di hilir pembangkit juga mengurangi emisi. Pembakaran batubara dengan fluidized bed juga merupakan metode lain yang efektif untuk mengurangi emisi SO2.

Abu
Abu adalah residu setelah pembakaran. Sebuah pembangkit listrik batubara 500 MW menghasilkan sekitar 20% abu, abu yang dihasilkan mencapai dua juta ton dalam lima tahun. Pabrik semen dapat memanfaatkan sebagian kecil dari abu ini. Membuangnya secara massal dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah lingkungan.
  • Abu mengandung unsur-unsur beracun yang dapat merembes ke dalam sistem air minum.
  • Angin, rusaknya tanggul atau tumpahan abu bisa membawa pergi partikel abu ke daerah sekitarnya yang menyebabkan masalah bagi vegetasi dan manusia.
Mengingat daur hidup pembangkit listrik adalah 20 tahun, kejelian, perencanaan, dan komitmen diperlukan untuk membuang abu dengan cara yang ramah lingkungan.

Materi Partikulat
Pembangkit listrik memiliki aturan yang rumit dalam menangani abu. Sejumlah kecil yang keluar melalui stack dikategorikan sebagai emisi materi partikulat.

Partikel-partikel yang berukuran kurang dari 2,5 mikron disebut PM 2,5 menjadi perhatian besar karena bertanggung jawab terhadap penyakit pernafasan pada manusia.

Nitrogen Oksida (NOx)
Nitrogen dalam bahan bakar dan udara bereaksi dengan oksigen pada suhu tinggi untuk membentuk berbagai macam nitrogen oksida yang secara kolektif disebut NOx. Pembangkit listrik berbahan-bakar fosil adalah emitor terbesar kedua NOx.

NOx merupakan polutan berbahaya, menciptakan masalah visual dan pernapasan. NOx juga bergabung dengan air untuk membentuk hujan asam, asap, dan ozon tanah.

Desain teknologi pembakaran telah membantu dalam mengurangi emisi NOx. Metode seperti Selective Catalytic Reactors digunakan dalam pembangkit listrik untuk memenuhi peraturan emisi.
thumbnail

Artikel Terkait Listrik Batubara :





 
Copyright © 2013. - www.JualBatubara.com
Informasi Batubara Indonesia